KARAENG GALESONG

Galesong adalah sebuah komunitas yang cukup berperan dalam pentas sejarah Sulawesi Selatan, nama Galesong sudah tidak asing lagi terutama dalam hubungannya dengan kerajaan Gowa dalam menentang dominasi Belanda (VOC) di Sulawesi Selatan. Dan bahkan, nama Galesong menjadi populer ketika seorang rajanya ‘Karaeng Galesong’ membantu perlawanan Trunojoyo terhadap susuhunan Mataram, Amangkurat I. Sejumlah sosiolog bersepakat bahwa pemimpin ialah seorang yang memiliki pengaruh atas orang lain, dalam arti bahwa pemikiran, kata-kata dan tindakannya mempengaruhi tingkah laku orang lain. Dalam tatanan birokrasi tradisional ‘Karaeng Galesong’ adalah panutan, simbol dari adat, semua sisi dari dimensi kehidupan seorang ‘Karaeng’, perilaku dan hubungan-hubungan sosialnya, adalah pencerminan dari kelembagaan tradisional yang disebut ‘Pangngadakkang’ yang sarat dengan nilai-nilai kepemimpinan tradisional yang barangkali masih sangat relevan untuk diangkat ke permukaan menyonsong otonomi daerah.

Dalam sejarah perkembangannya sekitar awal abad XV di masa kejayaan Kerajaan Gowa, di pesisir pantai selatan Selat Makassar, berdiri sebuah kerajaan, yaitu Kerajaan Galesong, dan diperintah oleh seorang raja, yang bergelar kare, yang selanjutnya berubah menjadi karaeng. Kerajaan Gelesong yang terletak di pesisir Selat Makassar mulai dari Aeng Towa di ujung utara dan berbatasan dengan Kerajaan Gowa sampai ke Mangindara di bagian selatan, dengan luas 68,10 Km2 dan terdiri dari 23 kampung, di mana 3 kampung di antaranya terletak di wilayah kekuasaan Kerajaan Gowa yakni, Tangke Jonga, Bonto Koddopepe, Pare’-pare’. Kampung tersebut merupakan pemberian Raja Gowa kepada Karaeng Galesong yang bernama I Mallarasang Daeng Magassing.

Kerajaan Galesong pada zamannya, membawahi sepuluh Daerah Kajannangang, dan Gallarrang, masing-masing:

  1. Gallarrang Aeng Batu-batu
  2. Lo’mo Sampulungang
  3. Jannang Campagaya
  4. Anrong Guru Bontolebang
  5. Anrong Guru Beba
  6. Gallarrang Bontomangngape’
  7. Jannang Mannyampa
  8. Jannang Kodatong
  9. Gallarrang Popo’
  10. Jannang Mangindara

Selain itu, Galesong juga menguasai pulau-pulau seperti Tanakeke, Bauluang, Sitangnga, Dan Doangang.

Sekarang ini Galesong secara administratif merupakan wilayah Kabupaten Takalar Sulawesi Selatan. Galesong sebagai sebuah komunitas Makassar dan bekas kerajaan berdaulat dari berbagai sisi memiliki kearifan tradisi dan nilai-nilai budaya yang menjadi frame of refrence komunitasnya, terutama nilai-nilai tradisional dalam kepemimpinan elit lokal Karaeng Galesong, yang berangkali masih sangat relefan untuk diangkat ke permukaan dalam rangka menyonsong otonomi daerah atau dengan perkataan lain apakah nilai-nilai tradisional tersebut masih gayut diaktualkan. Kajian mengenai nilai-niali tradisional dalam lokal sebagai salah satu dimensi sosio-kultural masyarakat dalat membantu rencana pembangunan yang diwarnai stressing program dan prioritas-prioritas untuk menjawab situasi kongkrit masyarakat terutama menyangkut pemberdayaan komunitas lokal menyongsong otonomi daerah. Hal ini sangat urgen untuk menghindari pembangunan yang dilakukan secara drastis dengan mengabaikan kearifan tradisi dan nilai-niali budaya masyarakat lokal, yang pada akhirnya akan bermuara menjadi problem bila menurut Peter L. Berger menuntut “korban manusia” karena kurang mempertimbangkan dimensi sosial budaya yang menjadi bingkai laku hidup masyarakat.

Sumber lontara menyatakan bahwa adat identik dengan hukum yang harus diikuti dan dipatuhi oleh rakyat termasuk kelompok bangsawaan/kerabat karaeng dan Raja sekalipun. Adat tidak mengenal cucu, tidak mengenal penguasa, tidak mengenal orang kaya, mislin, tidak mengenal kelompok aristokrat, pendek kata adat atau hukum harus ditegakkan oleh setiap raja/karaeng yang berkuasa demi terwujudnya rasa keadilan di masyarakat. Sebagai contoh, bagaimana bila ada raja/karaeng yang tidak bermoral selama bertahta? Apa tindakan rakyat yang menjadi korban kezalimannya itu? Dalam lontara, cukup banyak diuraikan tentang tindakan rakyat terhadap raja dan penguasanya yang tidak bermoral selama memerintah. Contoh yang menarik disajikan di sini adalah; I Tepu karaeng daeng Parabbung, Raja Gowa XIII, karena perbuatannya yang sewenang-wenang terhadap rakyat, termasuk berlagak angkuh terhadap para pembesar di Gowa dipecat dari jabatannya dan akhirnya pergi ke Luwu dan menetap di sana. Contoh lain dalam tatanan kehidupan sosial masyarakat Galesong yang pernah terjadi pada tahun 1877-1878, yakni seorang warga masyarakat melakukan salimara’ yaitu hubungan seks yang tidak wajar dengan saudara perempuan tirinya. Walaupun tindakan pelanggaran itu telah dikenakan hukuman berdasarkan peraturan Hindia-Belanda, tetapi oleh masyarakat dipandang tidak menjamin kesucian masyarakat apabila tidak dikenakan sanksi adat. Karena itu Lo’mo’ Sampulungang meminta kepada Kontrolir Kooreman agar menyerahkan pelaku kejahatan itu kepada penguasa adat, karena kejahatan yang demikian itu menurut adat harus dibunuh dengan memasukkan kedua orang yang melakukan hubungan seks tidak wajar itu ke dalam satu karung dan ditenggelamkan.

Selain faktor moral yang merupakan landasan kriteria seseorang layak menjadi pemimpin, dalam lontara juga dinyatakan bahwa apabila seorang raja atau putra mahkota telah disetujui oleh adat atau dewan kerajaan termasuk raja yang berkuasa, maka seyogyanya sebelum dia memangku tahta atau jabatan kerajaan mutlak harus melakukan partisipasi dalam kehidupan masyarakat. Hal ini dimaksudkan agar yang bersangkutan dapat mengetahui kehidupan rakyatnya dengan sebaik-baiknya. Dengan perkataan lain raja/karaeng belajar menjadi rakyat, mencoba mengidentifikasi persoalan yang dihadapi rakyat, memahami apa yang menjadi keinginan rakyatnya, kerisauan hati rakyatnya. Partidipasi seorang raja/karaeng untuk mengidentifikasi masalah-masalah yang dihadapi rakyat merupakan suatu tindakan untuk lebih memudahkan seorang raja/karaeng menetapkan suatu keputusan atau kebijkana mengenai persoalan yang dihadapi oleh mesyarakat. Apabila unsur-unsur tersebut di atas telah terpenuhi maka akan menambah derajat kepanutan masyarakat terhadap karaeng.

Berkaitan dengan konteks di atas ada baiknya di ketengahkan pemikiran yang terkandung dalam lontara yang berkaitan dengan masalah moral seorang raja/karaeng/ bangsawan terhadap rakyatnya. Pemikiran itu menyebutkan sebab musabab kehancuran sebuah negara sebagaimana pernyataan Karaeng I Mangadaccing Daeng Sitaba Karaeng Pattingaloang;

Nakana Karaenga lima pammanjenganna matena butta lompoa uru-uruna punna tea nipakainga’ karaeng ma’gauka makaruanna punna taena tumangngasseng ilalang pa’rasangan lompoa; maka talluna, punna mangngalle soso’gallarang ma’bicaraiya; maka appa’na punna majai gau’ ilalang pa’rasangan lompoa; maka limana punna tana kamaseangnga atanna karaeng ma’gauka.

Artinya: ada lima faktor yang dapat meruntuhkan suatu negara besar. Pertama, raja yang memerintah tidak mau diperingati; kedua, tidak ada orang pandai, kelompok cendekiawan dalam negeri besar; ketiga, para hakim dan pejabat kerajaan dapat disuap; keempat, terlampau banyak masalah besar dalam negara tersebut; kelima, raja tidak mencintai rakyat.

sumber tulisan :

Abdullah, Hamid 1991 Andi Pangerang Petta Rani Profil Pemimpin yang Manunggal Dengan Rakyat, Gramedia Widya Sarana Indonesia. Jakarta

1985 Manusia Bugis-Makassar, Inti Idayu Press. Jakarta

Ahimsah, Heddy Shri 1988 Minawang Hubungan Patron Klien di Sulawesi Selatan, Gajah Mada University Press. Yogyakarta

Latif, Abdul 1994 “Galesong Di Masa Lalu, Studi Tentang Sejarah Maritim di Sulawesi Selatan”. Lembaga Penelitian, Unhas. Ujung Pandang

Mama’dja, A. J. Bostan Daeng 1988 Sejarah Kerajaan Dan Perjuangan Karaeng Galesong Pada Abad XV – XIX (tidak dipublikasikan)

Manyambeang, A. Kadir (dkk) 1983 “Jiwa Laut Dalam Sastra Makassar”, Universitas Hasannudin. Ujung Pandang

Meko, Frieds 1998 “Dimensi Sosial Budaya Masyarakat Lokal dalam Pembangunan”. (Kompas, 12 Februari 1998)

About these ads

2 Tanggapan

  1. >>> Mama’dja, A. J. Bostan Daeng 1988 Sejarah Kerajaan Dan Perjuangan Karaeng Galesong Pada Abad XV – XIX (tidak dipublikasikan) <<<

    pernah liat naskahnya bos???

  2. Aku ga perna liat secara langsung tetapi teman yang pernah baca dan dia yang memberikan informasi itu ke saya…. harap maklum. thanks atas kunjungannya gang

Orang Bijak akan meninggalkan KOMENTAR.........

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya.